Bersuara untuk Sulut! MDT Desak Polda Metro Usut Tuntas Kematian Kenzha Walewangko

JAKARTA, PRONews5.com – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Gerindra, Martin Daniel Tumbelaka (MDT), mendesak Polda Metro Jaya untuk mengusut tuntas kasus kematian Kenzha Walewangko, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) asal Manado yang tewas secara misterius di lingkungan kampus.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang digelar Rabu (30/4/2024), MDT menyampaikan pernyataan keras yang menggugah perhatian publik dan menekan institusi penegak hukum agar tidak menutup-nutupi fakta sebenarnya di balik kematian tragis tersebut.

Menurut MDT, pernyataan awal kepolisian yang menyebut Kenzha tewas akibat konsumsi minuman keras sangat prematur dan cenderung menyesatkan.

[bacajuga berdasarkan="tag" mulaipos="1" judul="Baca Juga: "]

Ia menekankan bahwa informasi dari dua saksi mata, Elisa Gilbert dan Eril, mengindikasikan adanya tindakan kekerasan terhadap korban sebelum meninggal dunia.

Bahkan, muncul dugaan kuat bahwa Kenzha dianiaya hingga meninggal, namun penanganan kasus ini dianggap tidak transparan dan terkesan terburu-buru.

Martin menyebut bahwa terdapat tiga nama yang disebut dalam kesaksian, yakni Thomas, Delon, dan Gerry, namun hingga kini belum diperiksa oleh aparat.

Ia mempertanyakan alasan di balik lambannya pemanggilan mereka dan menyebut narasi miras sebagai penghinaan terhadap akal sehat masyarakat Sulawesi Utara.

Politikus muda ini mengaku menerima ratusan pesan dari masyarakat Sulut yang meminta kejelasan dan keadilan atas kematian Kenzha yang disebut-sebut telah “dibungkam dengan cepat” oleh pihak tertentu.

Sebagai wakil rakyat dari dapil Sulawesi Utara, MDT menegaskan dirinya tidak akan tinggal diam. Ia menyatakan bahwa dirinya bukan hanya mewakili dapil secara administratif, tapi juga sebagai suara dari keluarga korban dan ribuan warga Sulut yang kecewa dengan penanganan kasus ini.

MDT juga mendesak agar dilakukan rekonstruksi ulang tempat kejadian perkara, pemanggilan seluruh saksi yang relevan, serta uji forensik ulang terhadap jenazah korban.

Sebelumnya, diketahui Kenzha Walewangko (22), mahasiswa Fakultas FISIPOL UKI, ditemukan tewas di area parkir motor kampus UKI, Cawang, Jakarta Timur, pada Selasa (4/3/2025) sekitar pukul 20.00 WIB.

Informasi awal menyebutkan bahwa korban sempat terlibat cekcok dengan beberapa mahasiswa dan diduga dipukul dengan benda tumpul hingga tewas. Bahkan pagar kampus UKI sempat jebol akibat keributan tersebut. Namun hingga kini, Polres Metro Jakarta Timur belum memberikan penjelasan lengkap mengenai kronologi kejadian.

Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Nicolas Ary Lilipaly, membenarkan peristiwa tersebut namun menyebut penyebab pasti kematian korban masih dalam tahap pendalaman.

Sementara itu, keluarga korban yang berdomisili di Jalan Sea, Kecamatan Malalayang, Manado, menyatakan kekecewaannya karena hasil autopsi yang telah dilakukan belum juga diberikan kepada mereka.

Ayah korban, Happy Walewangko, menegaskan bahwa keluarga menolak narasi miras dan menduga kuat anaknya menjadi korban pembunuhan.

Ia berharap kepolisian bertindak profesional, terbuka, dan segera memberikan kejelasan. Jenazah Kenzha telah dimakamkan di kampung halamannya di Desa Kanonang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Desakan Martin Daniel Tumbelaka agar kasus ini dibuka secara terang benderang merupakan sinyal kuat bahwa publik, khususnya masyarakat Sulawesi Utara, tidak akan membiarkan nyawa seorang anak bangsa hilang begitu saja tanpa keadilan.

MDT menyatakan komitmennya untuk terus mengawal kasus ini sampai tuntas dan tidak segan menyebut bahwa jika keadilan bisa dibeli, maka suara rakyat Sulut tidak akan ia jual.

[**/ARP]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *