JAKARTA, PRONews5.com – Peneliti digital forensik akhirnya mendatangi kediaman mantan Presiden pada Kamis sore, 12 Maret 2026, untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung. Kedatangan Rismon dilakukan setelah hasil penelitian terbarunya menyimpulkan ijazah dari milik Jokowi adalah asli.
Kepada wartawan usai pertemuan, Rismon mengaku datang tidak hanya untuk meminta maaf kepada Jokowi, tetapi juga kepada masyarakat yang selama ini mengikuti isu tersebut.
“Ya tentu saya meminta maaf kepada Pak Jokowi. Saya juga meminta maaf kepada publik, terutama pihak-pihak yang selama ini ikut mengikuti persoalan ini,” ujar Rismon.
Dalam kesempatan itu, ia memaparkan perkembangan terbaru dari penelitian yang ia lakukan terhadap dokumen akademik Jokowi. Hasil riset lanjutan, kata Rismon, justru memperkuat kesimpulan bahwa ijazah tersebut tidak menunjukkan indikasi manipulasi.
Menurutnya, kesimpulan terbaru itu diperoleh setelah dilakukan analisis dengan metodologi ilmiah yang lebih komprehensif dibandingkan kajian sebelumnya.
Rismon mengakui temuan tersebut bukan hal yang mudah ia sampaikan karena berpotensi memicu kritik dari pihak-pihak yang sebelumnya mempercayai narasi bahwa ijazah Jokowi tidak asli.
“Saya harus jujur menyampaikan hasil penelitian. Mungkin saya akan dicerca atau dianggap berbalik arah. Tetapi penelitian tetap harus berdiri di atas data dan metode ilmiah,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hasil penelitian terbaru itu telah disampaikan kepada penyidik sekitar sepekan sebelum dirinya mendatangi kediaman Jokowi.
Menurut Rismon, keaslian sebuah dokumen seharusnya tidak diputuskan melalui opini atau perdebatan politik, melainkan melalui proses verifikasi ilmiah yang objektif.
“Pertanyaan tentang keaslian ijazah harus dijawab dengan metodologi ilmiah, bukan sekadar narasi bahwa dokumen itu palsu atau asli,” ujarnya.
Ia menambahkan, penelitian terbaru tidak lagi menemukan indikasi manipulasi digital seperti yang pernah ia simpulkan dalam kajian sebelumnya yang tertuang dalam buku Jokowi’s White Paper.
“Hasil penelitian terbaru justru menunjukkan keaslian dokumen itu terjaga. Bagi saya sebagai peneliti, temuan ini mungkin terasa berat. Tetapi truth sometimes hurts, kebenaran kadang memang menyakitkan,” ungkapnya.
Sementara itu, kuasa hukum Rismon, , menjelaskan pertemuan antara kliennya dan Jokowi berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban.
Menurut Jahmada, pertemuan tersebut berkaitan dengan upaya penyelesaian perkara atas laporan yang diajukan Jokowi pada 30 April 2025.
Ia menjelaskan bahwa mekanisme penyelesaian perkara melalui pendekatan restorative justice mensyaratkan adanya kesediaan kedua pihak untuk saling memaafkan.
“Syarat utama restorative justice adalah adanya kesediaan untuk saling memaafkan. Itu yang kami sampaikan kepada Pak Jokowi dan konsepnya sudah kami siapkan secara tertulis,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Rismon juga membawa makanan khas Batak naniarsik serta menyerahkan ulos sebagai simbol penghormatan kepada Jokowi.
“Kami memandang Pak Jokowi sebagai sosok yang terhormat. Dalam tradisi Batak, pemberian naniarsik dan ulos merupakan bentuk penghormatan,” kata Jahmada.
Meski demikian, Jokowi belum memberikan pernyataan resmi terkait isi pertemuan tersebut. Saat meninggalkan rumahnya, ayah dari Wakil Presiden itu hanya sempat menyapa wartawan yang menunggu di lokasi.
“Sudah berbuka puasa belum?” ucap Jokowi singkat sambil berjalan menuju mobilnya sebelum meninggalkan kediaman.
Koreksi Penelitian Sebelumnya
Sebelumnya, melalui kanal YouTube Baligea Academy pada Rabu (11/3/2026), Rismon menjelaskan bahwa kesimpulan awal yang sempat mempersoalkan keaslian ijazah terjadi karena data penelitian yang digunakan saat itu belum sepenuhnya lengkap.
Ia menyebut buku Jokowi’s White Paper merupakan kompilasi riset independen dari beberapa penulis yang bekerja secara terpisah.
Rismon menulis bagian tengah buku, sementara bagian awal disusun oleh dan bagian lainnya ditulis oleh .
Karena penelitian dilakukan secara independen, Rismon mengakui terdapat kemungkinan perbedaan analisis maupun koreksi setelah data tambahan diperoleh.
Dalam dua bulan terakhir, ia mengaku melakukan pengujian ulang dengan menambahkan sejumlah variabel analisis, termasuk pendekatan geometri, rotasi, translasi, hingga pencahayaan pada dokumen digital.
Dari pengujian terbaru tersebut, ia menemukan bahwa elemen watermark dan emboss yang sebelumnya dipertanyakan ternyata memang terdapat pada dokumen yang dianalisis.
Temuan itu sekaligus membantah kesimpulan awal yang pernah ia sampaikan dalam penelitian sebelumnya.
“Sebagai peneliti, saya memiliki tanggung jawab ilmiah untuk menyampaikan hasil penelitian secara terbuka. Saya akui ada kekeliruan yang muncul karena data yang digunakan sebelumnya belum lengkap,” ujarnya.
Ia juga menyadari bahwa analisis sebelumnya telah memicu kegaduhan di tengah masyarakat serta berpotensi melukai perasaan Jokowi dan keluarganya.
Atas dasar itu, Rismon menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Jokowi dan keluarga atas kegaduhan yang sempat terjadi.
[**/ML]
