Munir Akhiri Dualisme, HAG: PWI Harus Kembali ke Marwah Pers Nasional

Munir Akhiri Dualisme, HAG: PWI Harus Kembali ke Marwah Pers Nasional

HAG juga mengingatkan bahwa pers ke depan menghadapi tantangan berat, termasuk tekanan politik, ancaman kriminalisasi wartawan, dan dominasi platform digital yang seringkali menggerus posisi media mainstream.

“Wartawan harus solid. Saya berharap kepemimpinan baru PWI mampu menghadirkan perlindungan nyata bagi anggotanya, bukan sekadar seremonial,” imbuh mantan Ketua Kadin Sulut tersebut.

Sosok HAG sendiri bukan asing bagi insan pers Sulut. Ia dikenal pernah mempekerjakan ratusan wartawan lewat media cetak Harian Media Sulut, Koran Manado, dan Reportase, jauh sebelum media daring marak seperti sekarang.

[bacajuga berdasarkan="tag" mulaipos="1" judul="Baca Juga: "]

Di sisi lain, pemilihan Ketua Dewan Kehormatan juga berlangsung dramatis. Atal S. Depari hanya unggul tipis dengan 44 suara, mengalahkan Sihoni HT yang meraih 42 suara.

Keputusan ini menandakan ketatnya dinamika internal PWI, sekaligus menunjukkan masih adanya faksi-faksi yang perlu disatukan.

Kemenangan Munir dan Atal disambut gegap gempita peserta kongres.

Namun di balik sorak-sorai itu, pekerjaan rumah besar menanti: menghapus luka dualisme, memperbaiki tata kelola, serta mengembalikan PWI sebagai rumah besar wartawan Indonesia.

“Kini saatnya Munir dan Atal bekerja. Tidak ada lagi ruang untuk faksi-faksi, yang ada hanyalah PWI sebagai satu tubuh. Pers harus kembali menjadi benteng demokrasi, bukan alat kepentingan segelintir pihak,” pungkas HAG.

[**/ARP]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *