Kalawat Catat Sejarah, Jadi Desa Siaga Bebas TBC Pertama di Sulut

Kalawat Catat Sejarah, Jadi Desa Siaga Bebas TBC Pertama di Sulut

MINAHASA UTARA, PRONews5.com — Kabupaten Minahasa Utara menorehkan sejarah baru dalam upaya pemberantasan Tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Utara. Pada Selasa, 27 Mei 2025, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Julius Selvanus, SE., secara resmi mencanangkan Desa Kalawat sebagai Desa Siaga Bebas TBC pertama di provinsi tersebut.

Pencanangan yang digelar di Kantor Hukum Tua Desa Kalawat ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya Bupati Minahasa Utara Joune J.E. Ganda (diwakili), unsur Forkopimda, pejabat TNI/Polri, insan pers, dan masyarakat setempat.

Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata penerapan semangat Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dicanangkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk mendorong pencegahan dan deteksi dini penyakit menular dan tidak menular di masyarakat.

[bacajuga berdasarkan="tag" mulaipos="1" judul="Baca Juga: "]

Melalui pencanangan Desa Siaga Bebas TBC ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menegaskan komitmennya dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas, sesuai dengan visi besar Indonesia Sehat 2045.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, dr. Debie K.R. Kalalo, MSc PH., Gubernur Selvanus menyampaikan keprihatinan atas tingginya angka kasus TBC di Sulawesi Utara yang mencapai 14.377 kasus pada tahun 2024.

Ia menegaskan bahwa pemberantasan TBC bukan hanya urusan medis, melainkan persoalan pembangunan manusia dan kualitas hidup masyarakat.

“TBC bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga ancaman terhadap produktivitas dan masa depan sumber daya manusia kita,” ujar Gubernur Selvanus.

Program Desa Siaga Bebas TBC, lanjutnya, sejalan dengan misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Utara 2025–2029 dalam peningkatan kualitas SDM.

TBC yang masih menjadi penyebab kematian dan kehilangan produktivitas terbesar kedua di Indonesia, harus diberantas secara sistematis melalui deteksi dini, edukasi masyarakat, dan penguatan peran kader kesehatan.

Gubernur juga menegaskan tiga pilar utama keberhasilan program ini, yaitu deteksi dini dan pengobatan tuntas, lingkungan sehat yang mendukung pencegahan penularan, serta sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Ia menekankan bahwa perubahan perilaku dan kesadaran bersama menjadi kunci untuk memutus rantai penularan.

Kepala Dinas Kesehatan Minahasa Utara, dr. Stela Safitri, M.Kes., yang mewakili Bupati Joune J.E. Ganda, menyambut baik pencanangan tersebut dan menyebut Desa Kalawat sebagai model percontohan dalam percepatan eliminasi TBC di tingkat lokal.

“Kami telah membentuk tim penanggulangan TBC, melakukan skrining, investigasi kontak, serta pengawasan minum obat (PMO). Semua langkah ini untuk memastikan tidak ada pasien yang berhenti di tengah jalan,” jelasnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan layanan kesehatan gratis bagi warga, termasuk pemeriksaan dahak, cek tekanan darah, serta konsultasi kesehatan umum.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak pagi. Sejumlah warga menyampaikan rasa terima kasih karena bisa memperoleh layanan tanpa biaya sekaligus mendapatkan penjelasan tentang cara mencegah penularan TBC.

Maria Lumentut, warga Desa Kalawat, mengaku bersyukur dengan adanya kegiatan ini.

“Saya baru tahu pentingnya periksa rutin. Dulu kalau batuk lama saya biarkan saja.

Sekarang saya lebih peduli,” ujarnya. Testimoni seperti ini memperlihatkan dampak langsung dari pendekatan jurnalisme solusi yang diusung oleh program Cek Kesehatan Gratis, yaitu membangun kesadaran melalui edukasi dan tindakan nyata.

Program Desa Siaga Bebas TBC ini juga melibatkan para kader dan relawan kesehatan desa yang berperan sebagai ujung tombak edukasi publik.

Mereka mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan informasi, mendampingi pasien yang sedang menjalani pengobatan, dan melaporkan perkembangan kasus ke puskesmas.

Langkah ini menjadi bagian dari gerakan deteksi dini yang menjadi tema besar Kemenkes dalam kompetisi karya tulis jurnalisme kesehatan tahun 2025.

Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, Desa Kalawat diharapkan menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap kesehatan masyarakat.

Gerakan ini tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui edukasi, pemeriksaan rutin, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya deteksi dini.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara optimistis, jika model Desa Siaga Bebas TBC di Kalawat berhasil, maka pendekatan serupa dapat diterapkan di desa-desa lain di seluruh provinsi.

Langkah ini menjadi bagian penting dari komitmen nasional untuk mewujudkan eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030.

[**/ARP]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *