NTT, PRONews5.com — Serma Kristian Namo, ayah kandung Prajurit Dua (Prada) Lucky Cepril Saputra Namo, meledak dalam kemarahan dan kesedihan setelah anaknya tewas diduga akibat penganiayaan brutal oleh seniornya di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere (Yon TP 834/WM), Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Ia menuntut agar seluruh pelaku dijatuhi hukuman mati.
“Saya tuntut keadilan. Kalau bisa semua dihukum mati, biar tidak ada Lucky-Lucky yang lain. Anak tentara saja dibunuh, apalagi orang lain,” tegas Kristian di kamar jenazah RS Wirasakti, Kupang, Kamis (7/8/2025).
Prada Lucky, yang baru dua bulan resmi menjadi anggota TNI AD setelah lulus pendidikan, ditemukan dalam kondisi kritis pada 2 Agustus 2025 dan dirawat di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo.
Tiga hari kemudian, kondisinya memburuk, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (6/8/2025) pukul 11.23 WITA, setelah mengalami dua kali henti jantung meski telah dilakukan tindakan RJP selama 45 menit.
Kristian, anggota Kodim 1627 Rote Ndao, menegaskan akan memperjuangkan keadilan meski nyawanya menjadi taruhan.
“Saya tidak takut siapapun kecuali Tuhan. Keadilan harus ditegakkan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tubuh Prada Lucky dipenuhi lebam, memar, luka sayat, dan bekas sundutan rokok di punggung.
Luka-luka itu memperkuat dugaan adanya penyiksaan sebelum korban meregang nyawa. Namun, dua rumah sakit di Kota Kupang, yakni RS Tentara dan RS Polri, disebut menolak melakukan autopsi.
Komandan Kodim 1625 Ngada, Letkol Deny Wahyu Setiawan, membenarkan bahwa kasus ini sedang dalam tahap penyelidikan.
Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Kolonel Infanteri Candra memastikan para personel yang diduga terlibat telah ditahan oleh Sub-Detasemen Polisi Militer Kupang.
“Peristiwa ini menjadi perhatian serius kami. Penyidikan dan pemeriksaan sedang berjalan,” ujarnya, Jumat (8/8/2025).
Kematian Prada Lucky mengingatkan publik pada kasus serupa pada 2023, ketika Prada MZR tewas akibat “pendisiplinan” fisik oleh enam seniornya di Batalyon Zeni Tempur 4/TK.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi apakah kematian Prada Lucky juga akibat praktik perpeloncoan yang sama.
Kasus ini menjadi ujian serius bagi institusi TNI AD untuk memastikan tidak ada lagi prajurit muda yang menjadi korban kekerasan internal. Keluarga menuntut keadilan penuh, sementara publik menanti transparansi dan komitmen hukum dari pihak militer.
[**/VIC]
